Senin, 09 Mei 2016

Geologi Regional Lembar Balikpapan, Kalimantan

Berikut penjelasan peta geologi lembar Balikpapan, Kalimantan yang meliputi stratigrafi regional, sumberdaya mineral dan energi, struktur geologi dan tektonik.

Stratigrafi Regional Lembar Balikpapan

Tatanan stratigrafi lembar Balikpapan yang diurutkan dari muda ke tua adalah sebagai berikut:

Aluvial (Qa): kerakal, kerikil, pasir, lempung dan lumpur. Merupakan endapan sungai, rawa, pantai dan delta. Tersebar di sepanjang pantai timur Tanah Grogot, Teluk Adang dan Teluk Balikpapan.

Formasi Kampungbaru (Tpkb): batulempung pasiran, pasir kuarsa, batulanau, sisipan batubara, napal, batugamping dan lignit. Tebal sisipan batubara dan lignit kurang dari 3 meter. Bagian bawah ditandai oleh lapisan batubara. Batugamping mengandung fosil Miogypsina sp., Lepidocyclina sp., Amonia Yabei dan Pseudorotalia cattiliformis. Berumur Miosen Akhir sampai Pliosen, diendapkan pada lingkungan delta dan laut dangkal. Tebal formasi ini 700-800 meter dan terletak tidak selaras di atas formasi Balikpapan.

Formasi Balikpapan (Tmbp): perselingan batupasir kuarsa, batulempung lanauan dan serpih dengan sisipan napal, batugamping dan batubara. Batugamping mengandung fosil Flusculinella borneoensis Tan, Miogypsina, Lepidocyclina sp. dan Cycloclypeus annulatus yang menunjukkan umur Miosen Tengah bagian atas. Lingkungan pengendapan pada daerah litoral-laut dangkal dengan ketebalan 800 meter.

Formasi Pulaubalang (Tmpb): perselingan batupasir kuarsa, batupasir dan batulempung dengan sisipan batubara. Mengandung fosil Cycloclypeus sp., Lepidocyclina sp., Miogypsina, Miogypsinoides dan Flusculinella bontangensis yang menunjukkan umur Miosen Tengah dan terendapkan pada lingkungan sublitoral dangkal. Tebal formasi ini sekitar 900 meter. Formasi Pulaubalang menindih selaras formasi Pamaluan dan ditindih secara selaras formasi Balikpapan.

Formasi Warukin (Tmw): perselingan batupasir dan batulempung dengan sisipan batubara. Terendapkan dilingkungan delta. Tidak dijumpai fosil. Umur diduga berkisar antara Miosen Tengah-Miosen Akhir. Tebal formasi antara 300-500 meter. Formasi Warukin menindih selaras formasi Berai.

Formasi Bebulu (Tmbl): batugamping dengan sisipan batulempung lanauan dan sedikit napal. Fosil yang dijumpai antara lain; Lepydocyclina ephippioides JONES & CHAPMAN, Lepydocyclina sp., Operculina sp., Operculinella, Miogypsinoides, Cycloclypeus yang menunjukkan umur Miosen Awal dan terendapkan di lingkungan laut dangkal. Ketebalannya mencapai 1900 meter. Formasi ini menindih selaras formasi Pamaluan.

Formasi Pamaluan (Tomp): batulempung dan serpih dengan sisipan napal, batupasir dan batugamping. Mengandung fosil Lepydocyclina sp., Miogypsinoides sp., Cycloclypeus sp. dan Operculina sp. Juga dijumpai Globigerina venezuelana HEDBERG, Globigerina ciperdensis BOLLI, Globorotalia nana, Dentalina sp., Uvigerina sp., Eponides sp., Nodosaria sp. dan Bolivina sp. yang menunjukkan umur Oligosen Akhir-Miosen Tengah. Satuan ini terendapkan di lingkungan laut dalam dengan ketebalan antara 1500-2500 meter.

Formasi Berai (Tomb): batugamping, napal dan serpih. Napal dan serpih menempati bagian bawah formasi, sedangkan bagian tengah dan atas dikuasai oleh batugamping. Fosil yang ditemukan antara lain Globigerina binaersis KOCH, Globigerina praebulloides BLOW, Globigerina ciperoensis BOLLI, Globigerina dissimilis CUSHMAN & BERMUDEZ, Globigerina selli BOLLI, Cyroidina sp., Nonion sp., Uvigerina sp., Echinoides dan ganggang yang menunjukkan umur Oligosen sampai Miosen Awal dan terendapkan di lingkungan neritik. Tebal formasi sekitar 1100 meter.

Formasi Tuyu (Toty): perselingan batupasir, greywacke, serpih dan batulempung. Fosil yang dijumpai terdiri atas; Globigerina venezuelana HEDBERG, Globigerina unicava, Globigerina tripartita KOCH, Globigerina selli BORSETTI, Globigerina sp., Nanion sp., Quinquiloculina sp., Globigerinita dissimilis CUSHMAN & BERMUDEZ yang menunjukkan umur Oligosen Akhir dengan lingkungan pengendapan pada laut dalam. Formasi ini menindih selaras formasi Telakai.

Formasi Telakai (Tetk): batulempung, batupasir lempungan dan serpih dengan sisipan batugamping dan napal. Ditemukan fosil foraminifera kecil yaitu; Globigerina gortanigortani dan Globorotalia centralis yang menunjukkan umur Eosen Akhir dan terendapkan di lingkungan lebih dalam daripada sedimen formasi Kuaro. Tebal formasi 1700 meter dan menindih selaras formasi Kuaro.

Formasi Kuaro (Tek): batupasir dan konglomerat dengan sisipan batubara, napal, batugamping dan serpih lempungan. Fosil yang teramati terdiri atas; Globigerapsis mexilana, Globigerapsis semiinvoluta, Globorotalia cerroazulensis, Operculina sp., Nummulites sp. dan Discocyclina sp. yang menunjukkan umur Eosen Awal dan terendapkan di lingkungan paralik sampai laut dangkal. Ketebalan formasi sekitar 700 meter dan menindih tak selaras formasi Pitap.

Formasi Tanjung (Tet): perselingan batupasir, batulempung, konglomerat, batugamping dan napal dengan sisipan tipis batubara. Batupasir dan batugamping menunjukkan struktur perlapisan bersusun dan cross bedding. Fosil yang dijumpai yaitu; Pellatispira provaleae YABE, Discocyclina dispanca SOWERBY, Nummulites pengaroensis VERBEEK, Operculina sp., Milliolidae yang menunjukkan umur Eosen Akhir dan terendapkan di lingkungan paralik sampai neritik. Tebal formasi diperkirakan sekitar 1000-1500 meter. Formasi ini tertindih tak selaras formasi Pitap.

Formasi Haruyan (Kvh): lava, breksi dan tufa. Lava bersusunan basal. Breksi polimik dengan fragmen andesit dan basal tidak memperlihatkan perlapisan. Tufa berlapis tipis umumnya telah terubah, mengandung kaca dan klorit.

Olistolit Kintap (Kok): batugamping, padat, tidak berlapis, mengandung fosil Orbitolina sp., yang menunjukkan umur Kapur Tengah. Tebal satuan sekitar 200 meter.

Formasi Pintap (Ksp): perselingan batupasir, greywacke, batulempung dan konglomerat. Berumur Kapur Awal berdasarkan fosil Gastropoda dan Cilindris sp. Tebal formasi diduga tidak kurang dari 1500 meter.

Batuan Terobosan
Granit dan Diorit (Kdi): granit berwarna kelabu muda, mengandung muskovit dan sedikit hornblende. Menerobos batuan pra-Tersier berupa dike. Diorit berwarna kelabu muda, tekstur faneritik, mineral utama biotit. Umur batuan terobosan ini diduga berumur Kapur Akhir.

Batuan Tektonit
Kompleks Ultramafik (Ju): Serpentinit dan harzburgit. Serpentinit berwarna kelabu kehijauan, padat, tersusun oleh mineral krisotil dan antigorit. Harzburgit berwarna hijau gelap, terserpentinitkan, tersusun oleh mineral olivin, piroksin dan serpentin. Umurnya diduga Jura.
Kolom Stratigrafi Geologi Lembar Balikpapan
Gambar : Korelasi Satuan Peta Geologi Lembar Balikpapan, Kalimantan

Struktur Geologi dan Tektonika Lembar Balikpapan

Batuan di daerah ini hampir semuanya mengalami deformasi, mulai dari yang pra-Tersier sampai Tersier Akhir. Akibat proses itu terbentuk antiklin, sinklin dan sesar. Perlipatan pada batuan Tersier membentuk kemiringan antara 10-60 derajat dan pada pra-Tersier lebih besar dari 40 derajat. Bentuk lipatan umumnya tak setangkup dengan kemiringan lapisan bagian dalam lebih terjal dari pada bagian luar. Arah sumbu lipatannya mulai utara-selatan sampai timurlaut-baratdaya. Struktur sesar daerah ini terdiri atas sesar turun, sesar naik dan sesar geser jurus. Arah sesar-sesar hampir sama dengan arah sumbu-sumbu lipatan.

Kegiatan tektonik daerah ini diduga berlangsung semenjak Jura. Akibatnya batuan yang berumur pra-Jura, yaitu batuan ultrabasa mengalami alih tempat, perlipatan dan pensesaran. Proses ini diikuti oleh kegiatan magma setelah itu terjadi pengendapan sedimen klastik dan vulkanik yang menyusun formasi Pitap dan formasi Haruyan yang merupakan batuan tetap-asal pada Kapur Akhir. Kegiatan tektonik pada Kapur Akhir bagian bawah menghasilkan pengalihan tempat batuan ultrabasa oleh sesar naik. Proses itu diikuti dengan kegiatan magma yang menghasilkan terobosan granit, granodiorit dan diorit pada Kapur Akhir. Sejak Paleosen Awal sampai Eosen Awal terjadi pengangkatan, erosi dan pedataran menghasilkan sedimen darat yang menyusun formasi Tanjung dan formasi Kuaro. Berdasarkan cekungan Tersier di Kalimantan Tenggara dibeberapa tempat terendapkan karbonat membentuk formasi Tanjung.

Pada kala Oligosen hingga Awal Miosen terjadi penurunan terus menerus yang berlangsung sampai Miosen Awal. Bahan yang terendapkan berasal dari bagian selatan, barat dan utara cekungan. Fasies susut laut terbentuk di bagian terdalam cekungan tersebut. Di bagian selatan cekungan endapan ini mempunyai hubungan dengan perkembangan fasies karbonat yang menyusun formasi Berai bersamaan dengan perkembangan sedimen klastika ke arah tengah cekungan yang menyusun formasi Pamaluan.

Pada Kala Miosen Tengah terjadi susut laut yang mengakibatkan terbentuknya endapan darat yang menyusun formasi Warukin, Pulaubalang dan Balikpapan. Pada kala Miosen Akhir terjadi lagi pengangkatan yang menyebabkan terjadinya sesar bongkah dan munculnya kembali batuan tua termasuk batuan replacement sehingga terbentuk Tinggian Meratus. Akibatnya terbentuklah cekungan Barito, Kutai dan anak cekungan Pasir yang disertai pengendapan.

Gerak tektonik kuat ini mengangkat tepi cekungan sebelah barat yang menghasilkan pengendapan sedimen klastik ke arah timur yang diikuti kegiatan vulkanik berupa penerobosan di Purukcahu dan pelelehan lava serta pengendapan tufa di daerah Lembak. Pengendapan sedimen klastika di lembar Balikpapan menghasilkan endapan delta dari formasi Kampungbaru di cekungan Kutai.

Sumberdaya Mineral dan Energi Lembar Balikpapan

Sumberdaya mineral di lembar Balikpapan terdiri dari batugamping, batulempung dan batupasir kuarsa serta emas plaser. Batugamping dari formasi Berai dan formasi Bebulu cadangannya cukup besar. Batupasir kuarsa yang dijumpai dalam formasi Kampungbaru, Balikpapan, Pulaubalang dan Warukin dapat diolah untuk berbagai kebutuhan industri. Emas didulang dari sungai Kuaro dan sungai Panjang dan diperkirakan berasal dari batuan pra-Tersier.

Minyak bumi ditemukan pada formasi Kampung Baru, Balikpapan, Pulaubalang dan Warukin. Batubara terdapat sebagai sisipan dalam formasi Tanjung, Kuaro, Balikpapan, Pulaubalang dan Warukin. Kualitas batubara tersebut bervariasi sesuai lingkungan pengendapannya. Ditinjau dari kalori bakar dan kadar sulfur batubara dalam formasi Tanjung dan formasi Kuaro lebih baik mutunya daripada yang terdapat dalam formasi Balikpapan, Pulaubalang dan Warukin.

Hasil pengukuran kandungan gas metan batubara (CBM-CH4) dalam beberapa lapisan batubara cukup tebal di sekitar Samarinda bervariasi antara 0,584-1,125 ml/kg.

Peta geologi lembar Balikpapan dapat di download pada link berikut ini : 1814 - 1914 Balikpapan.

Referensi
S. Hidayat dan I. Umar. Peta Geologi Lembar Balikpapan, Kalimantan. Bandung, 1994.

Minggu, 08 Mei 2016

Geologi Regional Lembar Banjarnegara dan Pekalongan, Jawa Tengah

Berikut penjelasan peta geologi lembar Banjarnegara dan Pekalongan, Jawa Tengah yang meliputi stratigrafi regional, sumberdaya mineral, struktur geologi dan tektonik regional.

Stratigrafi Regional Lembar Banjarnegara dan Pekalongan

Tatanan stratigrafi regional lembar Banjarnegara dan Pekalongan yang diurutkan dari muda ke tua sebagai berikut:

Aluvial (Qa): kerikil, pasir, lanau dan lempung. Merupakan endapan sungai dan rawa dengan tebal hingga 150 meter.

Batuan Gunungapi Sundoro (Qsu): Lava andesit dengan kandungan mineral hipersten - augit; basal dengan kandungan mineral olivin - augit; breksi aliran; breksi piroklastik dan lahar.

Batuan Gunungapi Sumbing (Qsm): lava andesit dengan kandungan mineral augit - olivin; breksi aliran; breksi piroklastik dan lahar.

Batuan Gunungapi Dieng (Qd): lava andesit dan andesit kuarsa serta batuan klastika gunungapi. Kandungan silika batuan berkurang dari muda ke tua.

Kipas Aluvial (Qf): terutama bahan hasil rombakan gunungapi. Telah tersayat.

Endapan Danau dan Aluvial (Qla): pasir, lanau, lumpur dan lempung. Setempat tufaan.

Batuan Gunungapi Jembangan (Qj): lava andesit dan batuan klastika gunungapi. Mineral penyusun terdiri atas hipersten - augit, setempat mengandung hornblende dan olivin. Berupa aliran lava, breksi aliran dan piroklastik, lahar dan aluvial (Qjo dan Qjm); lahar dan endapan aluvial terdiri dari bahan rombakan gunungapi, aliran lava dan breksi (Qjya dan Qjma) yang terendapkan pada lereng landai agak jauh dari pusat erupsi dibandingkan dengan batuan Qjyf dan Qjmf yang juga berupa aliran lava dan breksi dengan breksi piroklastik dan lahar.

Endapan Undak (Qt): pasir, lanau, tufa, konglomerat, batupasir tufaan dan breksi tufaan. Tersebar di sepanjang lembah Serayu.

Formasi Kaligetas (Qpkg): breksi vulkanik, aliran lava, tufa, batupasir tufaan dan batulempung. Breksi aliran dengan sisipan lava dan tufa halus sampai kasar. Setempat di bagian bawahnya ditemukan batulempung yang mengandung moluska dan batupasir tufaan. Batuan gunungapi yang melapuk berwarna coklat kemerahan dan sering membentuk bongkah-bongkah besar. Tebal berkisar antara 50-200 meter.

Anggota Breksi Formasi Ligung (QTlb): breksi gunungapi (agglomerat) bersusunan andesit, lava andesit hornblende dan tufa. Merupakan bagian atas dari formasi Ligung.

Anggota Batulempung Formasi Ligung (QTlc): batulempung tufaan, batupasir tufaan dengan struktur cross bedding dan konglomerat. Setempat sisia tumbuhan dan batubara muda yang menunjukkan bahwa anggota ini diendapkan di lingkungan bukan laut.

Formasi Damar (QTd): batulempung tufaan, breksi gunungapi, batupasir, tufa dan konglomerat. Setempat mencakup endapan lahar. Breksi gunungapi dan tufa bersusunan andesit sedangkan konglomerat bersifat basal secara setempat padu. Batupasir terdiri dari feldspar dan butir - butir mineral mafik. Setempat ditemukan moluska. Lingkungan pengendapan non-marin dan menindih selaras formasi Kalibiuk.

Anggota Batupasir Formasi Damar (Tpds): batupasir tufaan dan konglomerat, sebagian terekat kalsit. Bagian bawah berupa konglomerat polimik tersemen karbonat. Ke arah atas menjadi batupasir tufaan dan konglomerat andesit sebagian tersemenkan bahan karbonat. Lingkungan pengendapan terestrial. Menindih selaras formasi Kalibiuk.

Formasi Kalibiuk (Tpb): napal dan batulempung bersisipan tipis tufa pasiran. Napal dan batulempung berwarna kelabu kebiruan, kaya akan fosil moluska yang menunjukkan umur Pliosen dengan lingkungan pengendapan pada daerah pasang surut. Ke arah atas lapisan terdapat sisipan tufa pasiran. Tebal formasi antara 2500-3000 meter. Menjemari dengan anggota breksi formasi Tapak dan ditindih selaras oleh formasi Damar.

Formasi Tapak (Tpt): batupasir gampingan dan napal berwarna hijau, mengandung pecahan-pecahan moluska. Umur Pliosen dengan tebal sekitar 500 meter.

Anggota Breksi Formasi Tapak (Tptb): breksi gunungapi dan batupasir tufaan. Breksi bersusunan andesit mengandung urat-urat kalsit. Batupasir tufaan di beberapa tempat mengandung sisa tumbuhan. Tebal minimal 200 meter. Ke arah selatan kali Serayu dikorelasikan dengan formasi Peniron, menjemari dengan bagian bawah formasi Kalibiuk dan menindih tak selaras formasi Kumbang.

Anggota Batugamping Formasi Tapak (Tptl): batugamping terumbu, napal dan batupasir. Batugamping mengandung koral dan foraminifera besar, sedangkan napal dan batupasir mengandung moluska. Lingkungan pengendapan pada daerah peralihan sampai marine, umur diduga Pliosen. Satuan ini ditindih selaras oleh anggota breksi formasi Tapak dan juga oleh formasi Kalibiuk serta menindih tak selaras formasi Halang.

Formasi Peniron (Tpp): breksi dengan sisipan tufa, setempat mengandung sisa tumbuhan dan tersilisifikasi. Breksi polimik dengan fragmen andesit piroksin, batulempung dan batugamping, matriks berupa batupasir lempungan dan tufaan. Bersisipan batupasir, tufa dan napal. Ke arah atas ukuran fragmen mengecil. Setempat ditemukan sisa tumbuhan. Tufa agak lapuk berukuran lanau sampai pasir sedang, sortasi sedang, tebal lapisan sekitar 20 cm. Satuan berupa lapisan turbidit yang terendapkan di daerah kipas atas bawah laut. Umur formasi diduga Pliosen dengan ketebalan sekitar 700 meter. Formasi ini menindih tak selaras formasi Halang dan ditindih tak selaras oleh batuan gunungapi Sumbing Muda. Lebih ke arah utara dikorelasikan dengan anggota breksi formasi Tapak.

Formasi Kumbang (Tmpk): lava andesit dan basal, breksi, tufa, setempat breksi batuapung dan tufa pasiran serta sisipan napal. Lava sebagian besar mengaca. Napal mengandung Globigerina. Umur Miosen Tengah - Pliosen Awal dengan tebal sekitar 2000 meter dan menipis ke arah utara. Formasi ini menjemari dengan formasi Halang.

Formasi Halang (Tmph): batupasir tufaan, konglomerat, napal dan batulempung. Bagian bawah berupa breksi andesit. Lapisan bagian atas mengandung fosil Globigerina dan foraminifera kecil lainnya. Umur Miosen Tengah - Pliosen Awal dengan tebal maksimal 700 meter dan menipis ke arah timur. Breksi andesit ketebalannya bervariasi dari 200 meter di selatan sampai 500 meter di sebelah utara. Bagian atas lapisan tak mengandung rombakan berbutir kasar. Diendapkan sebagai sedimen turbidit pada zona batial atas.

Formasi Penosogan (Tmp): perselingan konglomerat, batupasir, batulempung, napal, tufa dan riolit yang berlapis baik. Bagian bawah satuan berupa konglomerat polimik yang kearah atas lapisan berangsur menghilang, tersusun dari kuarsa, kepingan batugamping kalkarenit yang mengandung Lepidocyclina. Batupasir dengan komponen utama kuarsa sedikit biotit, turmalin, rutil dan mineral berat lainnya, sortasi jelek, setempat gampingan dan kerikilan. Ke arah atas lapisan umumnya berangsur menjadi batulanau, berlapis tipis dan pejal. Struktur sedimen berupa graded bedding. Lapisan batuan ini hasil endapan arus turbidit. Bagian tengah formasi tersusun dari batulempung, napal dan kalkerinit dengan sisipan tufa, batulempung gampingan dan napalan. Kalkarenit berupa kepingan cangkang foraminifera dan koral, angular - subrounded, sortasi buruk, semen berupa kalsit. Sisipan batupasir kasar masih nampak yang semakin ke atas makin tipis. Lebih ke arah puncak napal dan napal tufaan yang mengandung Globigerina, Globoquadrina, Orbulina dan foraminifera besar. Sisipan tufa bersusunan dasit, riolit dan gelas mulai ada. Struktur sedimen berupa ripple mark, mudcrack, gradded bedding, bioturbation, paralel laminasi dan flute cast menunjukkan kesan akan lingkungan pengendapan air dangkal atau mungkin daerah pasang surut. Bagian atas satuan tersusun dari perselingan tufa dengan napal tufaan. Tufa kaca berlapis dengan tebal 5-10 meter dan menipis ke arah puncak. Umur satuan dianggap Miosen Tengah dengan tebal mencapai 1146 meter. Formasi ini menindih selaras formasi Waturanda dan ditindih selaras oleh formasi Halang.

Formasi Waturanda (Tmw): batupasir, breksi, konglomerat, lahar dan sisipan batulempung. Batupasir greywacke dengan komponen bersusunan andesit dan basal, dominan piroksin, kasar - kerikilan, sortasi buruk, subrounded, porositas sedang, pejal - berlapis, tebal lapisan 2 - 100 cm. Ke bagian lebih atas lapisan breksi gunungapi bersisipan batupasir greywacke, tufa gampingan, batulempung, konglomerat dan lahar. Breksi polimik berkomponen andesit dan basal, ukuran fragmen sekitar 30 cm, matriks batupasir dan tufa, mengkasar ke atas. Sisipan batupasir greywacke, tebal 50 - 200 cm, sedang - sangat kasar, komposisi mineral plagioklas, piroksin, gelas dan mineral bijih. Batulempung mengandung foraminifera kecil berumur Miosen Awal - Tengah. Struktur sedimen berupa gradded bedding, paralel laminasi dan convolute. Lingkungan pengendapan laut dalam dengan sebagian batuan terendapkan oleh arus turbidit. Satuan batuan ini ditindih selaras oleh formasi Penosogan dan menindih selaras atau sebagian menjemari dengan formasi Totogan.

Anggota Tufa Formasi Waturanda (Tmwt): perselingan tufa kaca, tufa hablur, batupasir gampingan dan napal tufaan. Padat, berlapis baik dengan tebal perlapisan 2 - 80 cm, rekahan terisi kalsit. Tufa tersusun atas feldspar, kaca, kuarsa dan mineral bijih. Batupasir gampingan tebal sekitar 4 - 15 meter. Mengandung foraminifera plankton yang menunjukkan umur Miosen Awal. Lingkungan pengendapan pada daerah batial atas dengan tebal satuan beberapa meter hingga 200 meter. Satuan ini menindih selaras formasi Totogan dan merupakan bagian bawah formasi Waturanda.

Formasi Rambatan (Tmr): serpih, napal dan batupasir gampingan. Mengandung foraminifera kecil dengan tebal lebih dari 300 meter.

Anggota Sigugur Formasi Rambatan (Tmrs): batugamping terumbu yang mengandung fosil foraminifera besar yaitu; Eulepidina, Miogypsina, Spiroclypeus. Tebal satuan beberapa ratus meter.

Formasi Totogan (Tomt): breksi, batulempung, napal, batupasir, konglomerat dan tufa. Bagian bawah satuan terdiri dari perselingan tak teratur breksi, batulempung tufaan, napal dan konglomerat, setempat sisipan batupasir. Breksi polimik, fragmen berupa batulempung, slate, batupasir, batugamping fosilan, basal, sekis, granit, kuarsa dan rijang radiolaria; matriks batulempung tufaan, gampingan, napal berwarna merah, coklat dan ungu; semen kalsium karbonat. Ke arah atas perlapisan fragmen atau komponen breksi dan batupasir searah perlapisan. Konglomerat berfragmen basal, sortasi buruk, merupakan sisipan dalam breksi. Bagian atas lapisan berupa perselingan batulempung, batupasir dan tufa; berlapis baik; dijumpai kepingan kuarsa. Selain fosil foraminifera plankton yang menunjukkan kisaran umur Oligosen sampai Miosen Awal ditemukan pula Uvigerina sp. dan Gyroidina sp. Lingkungan pengendapan pada daerah batial atas. Perlapisan batuan secara keseluruhan merupakan endapan olistostrom. Tebal satuan sekitar 150 meter yang menipis ke arah selatan. Formasi ini ditindih tak selaras oleh formasi Penosogan dan formasi Rambatan serta bagian bawahnya menjemari dengan bagian atas satuan Batugamping Terumbu.

Batugamping Terumbu (Teol): batugamping bioklastika, melensa, fosil foraminifera besar dan kecil melimpah, koral dan ganggang merah. Kandungan fosil menunjukkan umur Oligosen - Eosen Tengah. Lingkungan pengendapan laut pada daerah dengan arus tenang. Batuan ini diduga berupa olistolit yang terpindahkan akibat pelongsoran dalam laut. Satuan batuan diperkirakan menjemari dengan bagian bawah formasi Totogan dan menindih tak selaras batuan tektonit.

Batuan Tektonit
Kompleks Luk Ulo (KTl): merupakan melange yang terdiri dari berbagai bongkahan yang tercampur secara tektonik dalam matriks serpih dan batulanau gelap yang terkoyakkan. Ukuran bongkah tak seragam dan tersusun dari basal, rijang hitam dan merah, batuan beku basa dan ultrabasa, sekis dan phyllite, greywacke, granit, tufa tersilisifikasi, batugamping merah dan kelabu. Umumnya bongkahan berbentuk lonjong. Setiap batas litologi merupakan sentuhan tektonik. Rijang memanjang searah perlapisan, berselingan dengan batulempung merah, terlipat kuat. Di beberapa tempat terdapat tanda - tanda pelongsoran. Batugamping merah mengandung radiolaria yang berumur Kapur. Batugamping merah dan rijang mungkin terendapkan secara biogen di lingkungan laut dalam. Basal umumnya menjemari dengan rijang dan terdapat sebagai boundary tektonik. Granit dan kuarsa porfiri diduga berasal dari batuan beku. Di bagian yang dikuasai matriks bongkahan membentuk struktur seperti ikan. Ke arah utara matriks lebih menonjol. Umur Kapur Akhir - Paleosen.

Basa dan Ultrabasa (KTog): gabbro, amfibolit, basal dan serpetinit. Gabbro berwarna hijau muda, tersingkap di antara napal, setempat batas keduanya jelas, terdapat sebagai boundari tektonik di dalam kompleks Lok Ulo. Basal berupa lava bantal, teralterasi. Berbatasan dengan basal umumnya berupa sedimen tufaan dan tufa. Serpentinit sebagai sisipan di dalam gabbro dan basal, terdapat sentuhan dengan sekis atau berbentuk lensa, terbreksikan. Umur Kapur Awal.

Greywacke (KTs): Greywacke dan konglomerat. Greywacke terdapat sebagai bongkahan atau boundary tektonik, berbutir halus - kasar, berwarna kelabu tua kehijauan, graded bedding, tersusun dari kuarsa, feldspar, kalsit, gelas dan kepingan batuan, setempat bentuk boudin, di banyak tempat merupakan kepingan dalam matriks yang menyerpih. Konglomerat polimik. Terendapkan dalam palung yang mengalami penurunan cepat, bersama dengan batulempung berwarna hitam, batulanau dan batulumpur sebagai sedimen turbidit. Umur Kapur Akhir - Paleosen.

Batuan Terbreksikan (KTm): fragmen batuan sedimen dan batuan gunungapi teralterasi, granit, porfiri plagioklas - kuarsa, gabbro, amfibolit, serpentinit dan tufa. Terbreksikan, tercampur aduk secara tektonik dan tersesarkan secara massa di atas batuan sedimen berumur Kapur. Sebagian granit dan porfiri diduga berasal dari batuan beku dan sebagian lagi berasal dari tufa terkersikkan dan batuan sedimen yang terkena proses metamorfosis.

Batuan Terobosan
Batuan terobosan yang terdapat di daerah penelitian yaitu; Batuan Intrusi (Tm): batuan bersusunan diorit meliputi variasi tak teruraikan (Tmi), karsanit (Tmk), diorit atau diorit porfiri (Tmd), gabbro atau porfiri gabbro (Tmpi) dan spesartit (Tmsi). Diorit (Tpd): batuan bersusunan diorit.
Kolom Stratigrafi Lembar Banjarnegara dan Pekalongan
Gambar : Korelasi Satuan Peta Geologi Lembar Banjarnegara dan Pekalongan, Jawa Tengah

Struktur Geologi dan Tektonik Lembar Banjarnegara dan Pekalongan

Struktur geologi yang dijumpai berupa lipatan, sesar, kelurusan dan kekar yang melibatkan batuan berumur Kapur sampai Holosen. Lipatan yang terdapat di lembar ini berarah baratlaut - tenggara. Sesar yang dijumpai umumnya berarah jurus barat baratlaut - timur tenggara sampai utara baratlaut - selatan tenggara dengan beberapa berarah timurlaut - baratdaya. Jenis sesar berupa sesar turun, sesar naik dan sesar geser menganan yang menempati daerah tengah dan selatan lembar. Kelurusan yang sebagian diduga sesar mempunyai pola penyebaran seperti pola sesar dan umumnya berarah jurus baratlaut - timur tenggara serta baratlaut - tenggara dengan beberapa timurlaut - baratdaya. Kekar umumnya dijumpai pada batuan berumur Tersier dan Pratersier. Kekar berkembang baik pada batuan berumur Kapur yang di beberapa tempat tampak saling memotong.

Pada Kapur Awal - Tengah telah diendapkan kelompok batuan ofiolit yang terdiri dari basal, gabbro dan ultramafik serta sedimen pelagos berupa batugamping merah dan rijang radiolaria di lantai kerak samudera. Pada tektonik Kapur Akhir batuan kerak samudera tersebut tercampur dengan sedimen flysch dari sebelah utara karena adanya tumbukan. Kegiatan ini menghasilkan batuan kompleks Luk Ulo terserpentinkannya batuan ultrabasa. Pada Tersier yakni Eosen - Oligosen terendapkan batugamping terumbu. Pada Oligosen Akhir menjelang Miosen Awal terjadi lagi kegiatan tektonik yang menghasilkan endapan olistostrom. Miosen Awal menghasilkan endapan turbidit formasi Waturanda. Menjelang Miosen Tengah terjadi genang laut dan terendapkannya formasi Penosogan di daerah selatan lembar bersamaan dengan terendapkannya formasi Rambatan di daerah utara lembar. Penerobosan batuan bersusunan diorit terjadi pada akhir Miosen Tengah. Kegiatan tektonik yang disertai kegiatan gunungapi terjadi pada Miosen Akhir sampai Pliosen Awal dan menghasilkan formasi Peniron, Tapak, Halang, Kumbang dan formasi Kalibiuk. 

Tektonik yang terjadi pada Pliosen Akhir - Pliosen Awal menyebabkan terjadinya pengangkatan, pelipatan dan pensesaran. Pada masa ini terbentuk formasi Damar dan Ligung dalam suasana peralihan darat. Pada kala Plistosen Akhir terjadi lagi kegiatan gunungapi yang menghasilkan satuan batuan gunungapi Jembangan yang kemudian disusul oleh terendapkannya satuan yang lebih muda.

Sumberdaya Mineral dan Energi Lembar Banjarnegara dan Pekalongan

Sumberdaya mineral yang bersifat ekonomis yang dijumpai hanya bahan bangunan berupa batuan beku, batugamping, batupasir dan batulempung. Sumberdaya energi yang telah diusahakan untuk pembangkit tenaga listrik adalah tenaga panas bumi yang banyak terdapat di pegunungan Dieng. Pegunungan Dieng juga bisa dikelola sebagai daerah geo wisata.

Peta Geologi Lembar Banjarnegara dan Pekalongan dapat di download pada link Peta Geologi Lembar Jawa Tengah.
Indeks Peta Geologi Lembar Banjarnegara dan Pekalongan
Gambar : Indeks Peta Geologi Lembar Banjarnegara dan Pekalongan, Jawa Tengah

Referensi
W.H. Condon, L. Pardyanto, K.B. Ketner, T.C. Amin, S. Gafoer dan H. Samodra. Peta Geologi Lembar Banjarnegara dan Pekalongan, Jawa Tengah. Bandung, 1996.

Kamis, 21 April 2016

Geologi Regional Lembar Purwokerto dan Tegal, Jawa Tengah

Berikut penjelasan peta geologi lembar Purwokerto dan Tegal, Jawa Tengah yang meliputi stratigrafi regional, sumberdaya mineral, struktur geologi dan tektonik.

Stratigrafi Regional Lembar Purwokerto dan Tegal

Tatanan stratigrafi untuk lembar Purwokerto dan Tegal yang diurutkan dari muda ke tua adalah sebagai berikut:

Aluvial (Qa): kerikil, pasir, lanau dan lempung. Merupakan endapan sungai dan pantai dengan ketebalan hingga 150 meter.

Endapan Lahar Gunung Slamet (Qls): lahar dengan bongkah batuan gunungapi bersusunan andesit-basal, bergaris tengah 10-50 cm, dihasilkan oleh gunung Slamet tua. Sebarannya meliputi daerah datar.

Lava Gunung Slamet (Qvls): lava andesit berongga, terdapat di lereng timur gunung Slamet.

Batuan Gunungapi Slamet Tak Terurai (Qvs): breksi gunungapi, lava dan tufa. Sebarannya membentuk dataran dan perbukitan.

Endapan Undak (Qps): lapisan-lapisan batupasir tufaan, pasir, tufa, konglomerat dan breksi tufaan. Di sebelah timurlaut dan tenggara merupakan dataran yang bergelombang.

Formasi Linggopodo (Qpl): breksi gunungapi, tufa dan lahar. Diduga hasil kegiatan gunungapi Slamet atau Copet.

Formasi Gintung (Qpg): konglomerat andesit, dibeberapa tempat batupasir berwarna kehijauan sampai kelabu, lempung dengan kongkresi batupasir gampingan dan tufa. Didalam konglomerat kadang ditemukan kayu tersilisifikasi. Tersingkap di sepanjang sungai Gintung ke arah barat dengan ketebalan 800 meter. Terdapat pada beberapa singkapan kecil di dekat batas barat peta.

Formasi Mengger (Qpm): tufa berwarna kelabu muda dan batupasir tufaan, bersisipan konglomerat dan batupasir magnetit. Tebal sekitar 150 meter.

Formasi Ligung (Qtlb): agglomerat andesit, breksidan tufa berwarna kelabu dibeberapa tempat. Sebelumnya dinamakan anggota atas formasi Ligung.

Anggota Lempung Formasi Ligung (QTlc): batulempung tufaan, batupasir tufaan berlapis silang silur dan konglomerat. Setempat sisa tumbuhan dan batubara muda yang menunjukkan bahwa anggota ini diendapkan di lingkungan bukan laut.

Formasi Kaliglagah (Tpk): batulempung, napal, batupasir dan konglomerat di beberapa tempat dijumpai lensa lignit setebal 10-100 cm.

Formasi Kalibiuk (Tpb): napal lempungan bersisipan baupasir, kaya akan moluska. Tebal sekitar 175 meter.

Formasi Tapak (Tpt): batupasir berbutir kasar berwarna kehijauan dan konglomerat setempat dijumpai breksi andesit. Dibagian atas terdiri dari batupasir gampingan dan napal berwarna hijau yang mengandung kepingan moluska. Tebal sekitar 500 meter.

Anggota Batugamping Formasi Tapak (Tptl): merupakan lensa-lensa batugamping tak berlapis berwarna kelabu kekuningan.

Anggota Breksi Formasi Tapak (Tptb): breksi gunungapi dengan massa dasar batupasir tufaan. Dibeberapa tempat ditemukan urat-urat kalsit.

Formasi Kumbang (Tmpk): breksi, lava andesit dan tufa. Dibeberapa tempat breksi batuapung dan tufa pasiran. Tersingkap baik di gunung Kumbang sekitar 3 km sebelah barat peta dengan tebal 2000 meter.

Formasi Halang (Tmph): batupasir andesit, konglomerat tufaan dan napal yang bersisipan batupasir. Di atas bidang perlapisan batupasir terdapat bekas-bekas cacing. Foraminifera kecil menunjukkan umur Miosen Akhir dengan tebal sekitar 800 meter.

Anggota Breksi Formasi Halang (Tmphb): breksi polimik dengan fragmen andesit basal dan batugamping. Bersisipan batupasir dan lava basal.

Anggota Batugamping Formasi Halang (Tmphl): batugamping pejal berwarna putih dengan bintik-bintik kuning.

Formasi Penosogan (Tmpp): perselingan batupasir gampingan, batulempung, tufa, napal dan kalkarenit. Merupakan sequens turbidit.

Formasi Waturondo (Tmw): breksi bersisipan batupasir kasar, setempat lahar.

Formasi Rambatan (Tmr): serpih, napal dan batupasir gampingan. Napal berselang-seling dengan batupasir gampingan berwarna kelabu muda. Banyak dijumpai lapisan tipis kalsit yang tegak lurus bidang perlapisan. Banyak mengandung foraminifera kecil dengan ketebalan sekitar 300 meter.

Formasi Pemali (Tmp): napal globigerina berwarna kelabu muda dan kelabu kehijauan bersisipan batugamping pasiran, batupasir tufaan dan batupasir kasar. Umumnya merupakan runtunan batulempung berwarna kelabu yang monoton, bagian bawah tidak tersingkap. Tebal lebih dari 900 meter.

Batuan Terobosan Tersier
Terdiri atas porfiri mikrodiorit (m) dan diorit (d) berbutir sedang hingga kasar. Porfiri mikrodiorit berwarna coklat berbintik coklat tua dan hitam, pejal, lapuk. Bertekstur holokristalin subdiabas porfiri dengan fenokris feldspar dan mineral-mineral femic. Sebagian mineral femik lapuk sehingga terbentuk rongga-rongga.
Kolom Stratigrafi Lembar Purwokerto dan Tegal
Gambar : Korelasi Satuan Peta Geologi Lembar Purwokerto dan Tegal, Jawa Tengah

Struktur Geologi dan Tektonik Lembar Purwokerto dan Tegal

Perlipatan di daerah ini umumnya mempengaruhi batuan Neogen muda dengan arah utama hampir barat-timur. Beberapa sumbu lipatan yang arahnya acak diduga merupakan lipatan seretan akibat sesar-sesar regional. Sesar utama berarah baratlaut-tenggara dan timurlaut-baratdaya dengan gerakan miring. Sesar lainnya berarah hampir utara-selatan atau barat-timur. Sesar naik yang arahnya barat-timur dimana bongkah utara bergerak naik diduga sebagai bagian dari sistem sesar naik busur belakang. Berdasarkan pola sebaran sesar dan lipatannya arah kompresi utama adalah utara-selatan.

Sumberdaya Mineral Lembar Purwokerto dan Tegal

Batugamping terutama yang terdapat di anggota batugamping formasi Halang dan formasi Tapak digunakan untuk bahan baku industri kapur. Batuan beku bersusunan andesit-basal yang banyak terdapat di bagian tengah lembar (berasal dari gunung Slamet) juga kerakal, kerikil dan pasir hasil endapan sungai dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan dan pondasi jalan. Prospek lainnya adalah endapan fosfat di sekitar Ajibarang.

Peta Geologi Lembar Purwokerto dan Tegal ini dapat didownload pada link berikut ini Peta Geologi Lembar Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Peta Indeks Lembar Purwokerto dan Tegal
Gambar : Peta Indeks Geologi Lembar Purwokerto dan Tegal, Jawa Tengah


Referensi
M. Djuri, H. Samodra, T.C. Amin dan S. Gafoer. Peta Geologi Lembar Purwokerto dan Tegal, Jawa Tengah. Bandung, 1996.

Rabu, 20 April 2016

Geologi Regional Lembar Bogor, Jawa Barat

Berikut penjelasan peta geologi lembar Bogor, Jawa Barat yang meliputi fisiografi, stratigrafi, sumberdaya mineral, struktur geologi dan tektonik.

Fisiografi Lembar Bogor

Berdasarkan pembagian zona fisiografi daerah Jawa Barat oleh van Bemmelen (1949) lembar Bogor termasuk dalam zona Bogor dan Zona Pegunungan Selatan.

Zona Bogor, zona ini membentang mulai dari Rangkasbitung melalui Bogor, Purwakarta, Subang, Sumedang, Kuningan dan Manjalengka. Daerah ini merupakan perbukitan lipatan yang terbentuk dari batuan sedimen tersier laut dalam membentuk suatu Antiklonorium, dibeberapa tempat mengalami patahan yang diperkirakan pada zaman Pliosen-Plistosen sezaman dengan terbentuknya patahan Lembang dan pengangkatan Pegunungan Selatan. Zona Bogor sekarang terlihat sebagai daerah yang berbukit-bukit rendah di sebagian tempat secara sporadis terdapat bukit-bukit dengan batuan keras yang dinamakan vulkanik neck atau sebagai batuan intrusi seperti Gunung Parang dan Gunung Sanggabuwana di Plered Purwakarta, Gunung Kromong dan Gunung Buligir sekitar Majalengka. Batas antara zona Bogor dengan zona Bandung adalah Gunung Ciremai (3.078 meter) di Kuningan dan Gunung Tampomas (1.684 meter) di Sumedang.

Zona Pegunungan Selatan, terbentang mulai dari teluk Pelabuhanratu sampai Pulau Nusakambangan. Zone ini mempunyai lebar ±50 km,tetapi di bagian Timur menjadi sempit dengan lebar hanya beberapa km. Pegunungan Selatan telah mengalami pelipatan dan pengangkatan pada zaman Miosen dengan kemiringan lemah ke arah Samudera lndonesia. Pegunungan Selatan dapat dikatakan suatu plateau dengan permukaan batuan endapan Miosen Atas, tetapi pada beberapa tempat permukaannya tertoreh-toreh dengan kuat sehingga tidak merupakan plateau lagi. Sebagian besar dari pegunungan Selatan mempunyai dataran erosi yang letaknya lebih rendah, disebut dataran Lengkong yang terletak di bagian Baratnya dan sepanjang hulu sungai CiKaso. Pada waktu pengangkatan Pegunungan Selatan (Pleistosen Tengah) dataran Lengkong ikut terangkat pula, sehingga batas Utara mencapai ketinggian ±800 m dan bukit-bukit pesisir mencapai ±400 m. Di pegunungan Selatan terdapat bagian-bagian Plateau Jampang, Plateau Pangalengan dan Plateau Karangnunggal. Di Tenggara Sukaraja terdapat bukit Pasirkoja setinggi 587 m, di daerah ini perbatasan antara zona Bandung dan pegunungan Selatan (yang berupa flexure) tertimbun oleh endapan muda alluvial dan vulkanis. Di sebelah Timur Gunung Bongkok (1.114 m), suatu bukit intrusi terdapat pula escarpment sebagai batas plateau itu dengan lembah Citanduy di zona Bandung. Pegunungan Selatan itu di Timur tertimbun dataran alluvial yang sempit, karena sebagian masuk ke laut dan berakhir di dekat Pulau Nusakambangan.

Stratigrafi Regional Lembar Bogor

Lembar Bogor secara umum tersusun atas batuan gunungapi, batuan terobosan dan batuan penyusun zona bogor serta batuan penyusun zona pegunungan selatan yang berupa batuan sedimen Tersier. Berikut satuan batuan penyusun lembar Bogor yang diurutkan dari muda ke tua.

Endapan Permukaan
Aluvial (Qa): terdiri atas lempung, lanau, kerikil dan kerakal terutama endapan sungai termasuk pasir dan kerikil endapan pantai sepanjang teluk Pelabuhanratu.
Kipas Aluvial (Qav): terutama lanau, batupasir, kerikil dan kerakal dari batuan gunungapi kuarter yang diendapkan kembali sebagai kipas aluvial.

Batuan Zona Pegunungan Selatan
Formasi Bentang (Tmbe): batupasir tufaan dengan batuapung dan lignit, napal tufaan, serpih tufaan dan breksi konglomeratan gampingan. Ketebalan lebih dari 500 meter, perlapisan baik dijumpai pada singkapan sepanjang sungai Cigadung. Berdasarkan kandungan fosil-fosil Globigerinoides emeisi dan Globigerinoides obliquus extremus maka umur formasi ini adalah Miosen Akhir. Satuan ini secara tak selaras menindih formasi Nyalindung.

Formasi Nyalindung (Tmn): batupasir glaukonit gampingan berwarna hijau, batulempung, napal, napal pasiran, konglomerat, breksi dan batugamping, napal tufaan yang dijumpai di sepanjang sungai Cijarian kaya akan moluska. Satuan ini diduga berumur Miosen Tengah yang secara selaras menindih formasi Lengkong.

Anggota Batugamping Formasi Nyalindung (Tmnl): batugamping kaya akan moluska dan foraminifera. Tersingkap sebagai lensa-lensa dalam formasi Nyalindung. Umur anggota batugamping ini setara dengan formasi Nyalindung yaitu Miosen Tengah.

Formasi Lengkong (Tmle): batupasir gampingan, perselingan laminasi halus dari batulanau dan batulempung dengan lignit serta napal pasiran. Berdasarkan kandungan fosil Sphaeroidinellopsis seminula dan Cycloclipeus indopacificus satuan ini berumur Miosen Awal dan secara stratigrafi menjemari dengan formasi Bojonglopang. Ketebalan formasi ini lebih dari 300 meter.

Formasi Bojonglopang (Tmbo): terutama batugamping terumbu padat dan batugamping pasiran berlapis. Tebalnya 250 sampai 300 meter. Satuan ini diduga berumur Miosen Awal dan menjemari dengan formasi Lengkong dan menutupi selaras formasi Jampang.

Formasi Jampang (Tmjv): terutama breksi aliran pejal bersusunan andesit piroksin. Tersemen baik dan tersingkap sepanjang lembah-lembah yang kena erosi dibagian tenggara lembar peta. Umur formasi ini setara dengan Miosen Awal dan secara selaras diduga menindih anggota tufa dan breksi formasi Jampang.

Anggota Cikarang Formasi Jampang (Tmje): umumnya batulempung pasiran, perselingan batupasir tufa dan tufa, bersisipan dengan lapisan tipis breksi. Tersingkap baik di sepanjang sungai Cimenga dan di daerah Cijangkar. Anggota ini diperkirakan berumur Miosen Awal yang menindih selaras anggota tufa dan breksi formasi Jampang.

Anggota Tufa dan Breksi Formasi Jampang (Tmjt): terutama batupasir tufa dasitan, tufa andesit, tufa batuapung dan breksi andesit/dasit tufaan gampingan serta batulempung napalan. Setempat lapisan batugamping mengandung fosil Trillina howchini, Lepidocyclina brouweri, Globorotalia mayeri, Globorotalia fohsi barisanensis yang memberikan indikasi umur Miosen Awal. Anggota ini merupakan bagian bawah dari formasi Jampang yang menindih selaras formasi Rajamandala.

Formasi Rajamandala (Tomr): terdiri atas napal tufaan, lempung napalan, batupasir dan lensa-lensa batugamping. Mengandung fosil Globigerina oligocaenica, Globigerina praebulloides, Orbulina, Lepidocyclina dan Spiroclypeus yang memberikan kisaran umur Oligosen Akhir sampai Miosen Awal dan menindih secara tak selaras formasi Batuasih. Tebal formasi ini sekitar 1100 meter.

Anggota Batugamping Formasi Rajamandala (Toml): batugamping terumbu koral dengan sejumlah fosil Lithothamnium, Lepidocyclina sumatrensis dan Lepidocyclina (Eulepidina) ephippioides, biasanya terdolomitkan. Tersingkap baik di Pasir Kutamaneuh, Pasir Aseupan di selatan Sukabumi dan di Liunggunung di selatan Cibadak.

Formasi Batuasih (Toba): terutama batulempung napalan berwarna hijau dengan konkresi pirit. Di beberapa tempat banyak sekali foraminifera besar dan kecil yang diduga berumur Oligosen Akhir dan secara selaras menindih formasi Walat. Tebal satuan ini 75-200 meter dan tersingkap baik di Batuasih.

Formasi Walat (Tow): terutama batupasir kuarsa yang berstruktur cross bedding, konglomerat kerakal kuarsa, batulempung karbonan, lignit dan lapisan tipis batubara. Kearah atas ukuran butir bertambah kasar, tersingkap di gunung Walat dan di daerah sekitarnya. Umur satuan ini di duga Oligosen Awal dan merupakan satuan tertua yang dijumpai di daerah Lembar. Tebalnya diperkirakan 1000-1373 meter.

Batuan Zona Bogor
Tufa dan Breksi (Tmtb): tufa batuapung, breksi tufaan bersusunan andesit, batupasir tufa, lempung tufaan dengan kayu terkersikkan dan sisa tumbuhan, batupasir berstruktur cross bedding.

Formasi Bojongmanik (Tmb): batupasir, tufa batuapung, napal dengan moluska, batugamping, batulempung dengan lempung bitumen dan sisipan lignit dan sisa damar. Tebal satuan ini diperkirakan mencapai 550 meter. Fosil dalam batulempung adalah plankton yang menunjukkan umur Miosen Tengah. Satuan ini dikorelasikan dengan formasi Subang di daerah Subang.

Anggota Batugamping Formasi Bojongmanik (Tmbl): batugamping mengandung moluska. Satuan ini berupa lensa-lensa dalam formasi Bojongmanik yang umurnya setara dengan Miosen Tengah.

Anggota Breksi Formasi Cantayan (Tmcb): breksi polymict dengan fragmen andesit - basal dan batugamping koral. Sisipan batupasir sela dibagian atas, tebal satuan 1700 meter. Anggota ini ditindih secara selaras oleh formasi Bojongmanik dan menindih selaras formasi Klapanunggal. Umur anggota breksi ini Miosen Tengah.

Formasi Klapanunggal (Tmk): terutama batugamping terumbu padat dengan foraminifera besar dan fosil - fosil lainnya termasuk moluska dan echinodermata. Umur satuan ini diduga setara dengan formasi Lengkong dan Bojonglopang di zona pegunungan selatan yaitu Miosen Awal. Formasi ini menjemari dengan formasi Jatiluhur dan di bagian timur lembar ketebalannya mencapai 500 meter.

Formasi Jatiluhur (Tmj): Napal dan serpih lempungan dengan sisipan batupasir kuarsa, bertambah pasiran ke arah timur. Bagian atas formasi ini menjemari dengan formasi Klapanunggal dan berumur Miosen Awal.

Batuan Gunungapi
Lava Gunungapi Endut - Prabakti (Qvep): tersusun andesit hornblende yang mengandung oligoklas, andesin, hipersten dan hornblende.

Batuan Gunungapi Gunung Salak
Merupakan produk dari gunungapi gunung Salak yang terdiri atas; aliran lava, andesit basal dengan piroksin (Qvsl); lahar, breksi tufaan dan lapili, bersusunan andesit basal, lapuk (Qvsb); tufa batuapung pasiran (Qvst).

Batuan Gunungapi Gunung Pangrango
Hasil erupsi gunungapi Pangrango yaitu; endapan lebih muda, lahar, bersusunan andesit (Qvpy) dan endapan lebih tua, lahar dan lava, basal andesit dengan oligoklas-andesin, labradorit, olivin, piroksin dan hornblende (Qvpo).

Batuan Guunungapi Gunung Gede
Hasil kegiatan erupsi gunung Gede terdiri atas; aliran lava termuda (Qvgy); breksi tufaan dan lahar, andesit dengan oligoklas-andesin, piroksin dan abundan hornblende, tekstur trakit, umumnya lapuk (Qvg); aliran lava bersusunan andesit basal (Qvgl); aliran lava basal gunung Gegerbentang (Qvba); breksi dan lava gunung Kencana dan gunung Limo (Qvk).

Batuan Gunungapi Tua
Batuan Gunungapi Tak Terpisahkan (Qvu); breksi dan aliran lava, terutama andesit.
Breksi Gunungapi (Qvb); breksi bersusunan andesit-basal, setempat aglomerat, lapuk.
Lava Gunungapi (Qvl); aliran lava di daerah Bogor bersusunan basal dengan labradorit, piroksin dan hornblende. Di daerah Palabuhanratu bersusunan andesit dengan oligoklas-andesin dan abundan hornblende.

Tufa (Qvt); tufa batuapung.

Bahan Gunungapi (Tpv); breksi, breksi tufa batuapung, aliran lava dan batupasir tufaan. Pada umumnya berlapis kurang baik, konglomerat bersusunan andesit dan basal. Satuan ini tersingkap baik di lembar Cianjur di duga berumur Plio-Plistosen dan menindih secara tak selaras batuan sedimen yang lebih tua.

Bahan Gunungapi (Tpb); breksi , aliran lava, batupasir tufaan dan konglomerat dengan susunan andesit-basal.

Batuan Terobosan
Batuan terobosan yang terdapat pada lembar Bogor yaitu; andesit (a) dengan komposisi mineral oligoklas-andesin, augit, hipersten dan hornblende yang membentuk plug dan dike; dasit (da) tersingkap di daerah sudut baratlaut; diorit kuarsa (qd) di daerah sudut baratlaut; andesit hornblende (ha) di daerah sebelah sudut tenggara; diorit porfiri (dp) merupakan dike sepanjang sungai Cicareuh.
Kolom Stratigrafi Geologi Lembar Bogor
Gambar : Korelasi Satuan Peta Geologi Lembar Bogor, Jawa Barat

Struktur Geologi dan Tektonik Lembar Bogor

Struktur geologi di daerah lembar berupa sesar, lipatan, kelurusan dan kekar yang dijumpai pada batuan yang berumur Oligosen - Pliosen sampai Kuarter. Sesar terdiri dari sesar geser dan sesar normal yang umumnya berarah utara - selatan, baratdaya - timurlaut dan baratlaut tenggara. Pola lipatan yang dijumpai berupa antiklin dan sinklin yang berarah baratdaya - timurlaut, barat - timur dan baratlaut - tenggara. Kekar umumnya berkembang baik pada batuan andesit yang berumur Kuarter.

Tektonik yang terjadi pada akhir Miosen Akhir menghasilkan dua pola struktur yang berbeda yaitu pengangkatan yang kemudian diikuti oleh terobosan batuan andesit.

Sumberdaya Mineral dan Energi Lembar Bogor

Sumberdaya mineral yang ekonomis di daerah lembar berupa mineral logam dan non logam. Mineral logam yang dijumpai berupa emas, perak, tembaga dan zinc. Emas dan perak dijumpai disekitar gunung Sireum dan Cibuhung, gunung Bunder dan Curug. Tembaga dan Zinc dijumpai pada terobosan andesit di sekitar gunung Pancar.

Bahan non logam berupa batugamping, fosfat, tras dan sirtu. Batugamping diusahakan penduduk di sekitar gunung Guha pada formasi Klapanunggal dan di Pasir Asuepan pada formasi Rajamandala. Di sudut baratlaut lembar terdapat bahan galian industri berupa andesit, batupasir, lempung dan batugamping.

Peta geologi lembar Bogor dapat di download pada link berikut ini peta geologi lembar Jawa Barat.
Indeks Peta Geologi Lembar Bogor
Gambar : Indeks Peta Geologi Lembar Bogor, Jawa Barat

Referensi
A.C. Effendi, Kusnama dan B. Hermanto. Peta Geologi Lembar Bogor, Jawa Barat. Bandung, 1998.

Selasa, 19 April 2016

Geologi Regional Lembar Sindangbarang dan Bandarwaru, Jawa Barat

Berikut ini penjelasan Peta Geologi Lembar Sindangbarang dan Bandarwaru, Jawa Barat yang meliputi stratigrafi regional, sumberdaya mineral, struktur geologi dan tektonika.

Stratigrafi Regional Lembar Sindangbarang dan Bandarwaru

Batuan penyusun lembar Sindangbarang dan Bandarwaru yaitu endapan permukaan, batuan sedimen, batuan gunungapi dan beberapa batuan terobosan. Berikut tatanan stratigrafi lembar Sindangbarang dan Bandarwaru yang diurutkan dari muda ke tua sebagai berikut;

Endapan permukaan
Talus dan Endapan Longsoran (Qht): endapan - endapan longsoran dan talus umum ditemukan terutama di sepanjang gawir - gawir di formasi Bentang dan menindih tak selaras formasi Bentang.

Aluvial dan Endapan Pantai (Qha): lempung, lanau, pasir dan kerikil yang menempati lembah - lembah sungai utama di selatan setebal 5 meter. Pasir dan gumuk pasir ada di daerah pantai, kerakal di daerah muara sungai Cilayu dan endapan - endapan pantai yang kaya akan moluska terbentuk di daerah pantai baratdaya. Magnetit dari pasir pantai mempunyai kandungan rata - rata Fe 57% dan TiO2 16%.

Endapan Undak dan Danau (Qt): pasir berwarna kelabu dan coklat, tidak mampat, bersisipan lanau dan lempung berwarna kelabu gelap. Lapisan kerakal di bagian dasar cekungan Cijember mengandung sisipan sisa tanaman dan lapisan silang silur. Batuan sedimen silang silur dengan bongkah - bongkah yang mengandung pirit di kawah gunung Kendeng.

Batuan sedimen
Formasi Koleberes (Tmk): batupasir tufa berlapis baik, kurang mampat dan tufa kristal dengan sisipan tufa, breksi tufa batuapung dan breksi bersusunan andesit. Batupasir berwarna kelabu kecoklatan, terdiri dari batuan andesit dengan sejumlah batuapung. Batupasir hitam terdapat di dekat gunung Gebeg dan di sebelah timur Citalahab. Bongkah - bongkah magnetit yang pejal terdapat di dua tempat dekat Koleberes. Sisa tumbuhan dan lapisan batubara setebal 1 meter terutama ditemukan di gunung Gebeg. Butir - butir damar ditemukan di sebelah timur Pagelaran, di lembah sungai Cilumut. Moluska, gastropoda, echinoida, koral dan foraminifera ditemukan terutama dilapisan - lapisan bagian atas dari satuan ini. Fauna moluska dari Cigugur meliputi 44,3% dari bentuk - bentuk Resen. Kumpulan fosil dari dekat lembah Cilumut terdiri dari Globigerina nephentes (TODD), Globigerinoides trilobus (REUSS), Globigerinoides immaturus LEROY, Globigerinoides obliquus BOLLI, Globigerinoides sacculifer (BRADY), Globigerinoides conglobatus (BRADY), Orbulina universa D'ORBIGNY, Hastigerina aeuquilateralis (BRADY), Pulleniatina primalis BANNER and BLOW, Globorotalia obesa BOLLI, Globorotalia menardii D'ORBIGNY, Globorotalia tumida (BRADY) menunjukkan umur Miosen Akhir sampai Pliosen. Sedangkan fosil dari dekat pasir Pari yang menunjukkan umur Miosen Akhir terdiri dari Globigerinoides extermus BOLLI & BERMUDEZ, Globigerinoides obliquus BOLLI, Globigerinoides immaturus LEROY, Globigerinoides trilobus (REUSS), Globoquadrina sp., Globoquadrina altispira (CUSHMAN & JARVIS), Globorotalia menardii (D'ORBIGNY), Pulleniatina primalis BANNER and BLOW, Sphaerodinella seminulina (SCHWARGER). Lingkungan pengendapan pada daerah laut terbuka dengan tebal 350 meter.

Formasi Bentang (Tmb): batupasir tufaan, kristal tufa, tufa batuapung dengan perselingan batulempung globigerina. Lapisan bagian atas terutama batulempung dan batulanau. Breksi batuapung mempunyai diameter fragmen 5 cm. Batupasir hitam merupakan lapisan tipis yang terdapat di bagian selatan lembar peta. Struktur sedimen berupa perlapisan dan pembebanan. Moluska dan foraminifera kecil terdapat dibanyak tempat. Brachiopoda berumur Neogen ditemukan di sungai Cigoyeyeh anak sungai dari Cisadea 3 km barat - baratdaya Koleberes. Lapisan batubara setebal 20 cm tersingkap di utara Kadupandak. Lensa batugamping yang berpori dan lapisan berfosil terdapat pada kontak dengan formasi Koleberes. Fosil yang dikumpulkan sepanjang kali Ciburial sebagai berikut; Lepidocyclina gigantea (MARTIN), Cycloclypeus guembelianus (BRADY), Cycloclypeus (Katacycloclipeus) sp., Globigerina trilobus (REUSS), Globigerina bulloides, Orbulina universa D'ORBIGNY, Orbulina bilobata (D'ORBIGNY) dan menunjukkan umur Miosen Akhir dengan lingkungan pengendapan pada daerah laut dangkal sampai laut dalam terbuka. Tebal formasi ini 300 meter dan menindih selaras formasi Cimandiri.

Anggota Batugamping Formasi Bentang (Tmbl): batugamping melensa, berpori dan mengandung fosil foraminifera. Umur Miosen Akhir dengan lingkungan pengendapan pada daerah laut dangkal terbuka.

Anggota Kadupandak Formasi Bentang (Tmbk): batulempung, batulanau dan batulempung tufaan. Umumnya berwarna kelabu sampai hitam, secara setempat kehitam - hitaman bersisipan dengan tufa batuapung, lapili dan breksi andesit. Moluska, sisa tumbuhan dan lapisan tipis batubara muda terdapat di beberapa tempat. Tebal satuan sekitar 80 meter. Satuan tersingkap di sekitar desa Kadupandak. Umur diduga Miosen Akhir.

Formasi Nyalindung (Tmn): Batupasir glaukonit bersifat gampingan, batulempung, napal, napal pasiran, konglomerat, breksi dan batugamping, napal tufaan. Mengandung moluska. Umur Miosen Akhir dengan lingkungan pengendapan pada daerah laut dangkal.

Formasi Cimandiri (Tmc): perselingan batulempung dan batulanau berwarna kelabu muda sampai menengah dan batupasir berwrna coklat kekuningan. Setempat bersifat gampingan, secara setempat meliputi endapan lahar yang tersusun dari tufa, breksi andesit dan breksi tufa. Globigerina, butir - butir damar yang lembut dan sisa tumbuhan terdapat jarang didalam sisipan batulanau atau batupasir mengandung glaukonit di lembah Cilanang. Umur formasi Miosen Tengah dengan lingkungan pengendapan pada daerah fluvial sampai peralihan. Struktur sedimen berupa lenticular dan flaser. Tebal formasi mencapai 400 meter.

Anggota Sindangkerta Formasi Cimandiri (Tmcs): tufa batuapung berwarna kelabu kekuning - kuningan, batupasir tufa dan breksi tufa. Fragmen batuapung sebesar 2,5 cm biasa didapatkan. Tersingkap baik di desa Sindangkerta tepat di bagian utara lembar peta. Tebal kira - kira 200 sampai 500 meter.

Formasi Bojonglopang (Tmbo): batugamping terumbu berupa perulangan lapisan batugamping pejal yang kaya akan moluska dan algae dengan batugamping berlapis yang tersusun dari hasil rombakan koral tersemen kuat. Dibagian bawah terdapat lapisan napal tufaan mengandung fosil foraminifera kecil, besar dan juga moluska. Kumpulan fosil Lepidocyclina omphalus, Lepidocyclina verbeeki Newton dan Holland, Lepidocyclina sumatrensis (BRADY), Cycloclipeus (Katacycloclipeus) sp., Operculina sp., bersama dengan ganggang gampingan menunjukkan umur Miosen Tengah. Ketebalan kira - kira 50 meter dan setempat mencapai 400 meter. Formasi ini menjemari dengan formasi Cimandiri. Lingkungan pengendapan pada daerah laut dangkal.

Formasi Rajamandala (Tomt): lempung, lempung napalan, napal globigerina, batupasir kuarsa dan konglomerat polimik, batubara, damar.

Batuan gunungapi
Lava dan Lahar Gunung Patuha [Qv(p,l)]: lava dan lahar andesit piroksin yang pejal dan berongga dari gunung Patuha. Pelembaran atau pengkekaran melapis terdapat secara lokal di daerah danau Patenggang, fenokris plagioklas yang panjangnya 1 cm biasa terlihat. Breksi lahar biasanya termampat baik, tapi kurang terpilah. Komponen bergaris tengah antara beberapa cm sampai 3 meter, matriks tufa pasiran berwarna abu - abu.

Lahar dan Lava Gunung Kendeng [Qt(k,w)]; aliran lava berselingan dengan endapan lahar berupa breksi andesit dan breksi tufa. Komponen menyudut sampai sebesar 40 cm diamaternya.

Endapan-endapan Piroklastik yang tak Terpisahkan (QTv): breksi andesit, breksi tufa dan tufa lapili. Di sisi timur gunung Parang dijumpai batuan piroklastik yang melembar dan ignimbrit. Kayu tersilisifikasi dan yaspis terdapat dalam breksi tersebut.

Formasi Beser (Tmbe): terutama breksi andesit, breksi tufa, tufa kristal dan batulempung. Ukuran maksimal fragmen breksi lebih dari 1 meter. Matriks terdiri dari batupasir tufa dan tufa kristal pejal berwarna kelabu. Di Cukanggaleuh bagian dasar breksi itu dicirikan oleh adanya kandungan koral dan moluska. Batulempung berlapis kurang baik, berwarna kelabu gelap, berupa lensa-lensa. Lingkungan pengendapan pada daerah darat sampai laut dangkal. Bagian bawah runtunan ini diduga menjemari dengan formasi Koleberes dan bagian atas formasi Bentang. Tebal kira-kira 750 meter.

Anggota Cikondang Formasi Beser (Tmbec): andesit piroksin berwarna kelabu menengah smapai gelap. Tersingkap baik di jurang curam dekat Cikondang di sudut baratlaut peta. Satuan disini diberi nama menurut kampung Cikondang. Pemineralan emas dan tembaga dalam batuan sekitar terdapat di dekat Cikondang. Bongkah-bongkah urat kuarsa tanpa pemineralan terdapat di dekat Ciayunan sebelah timur gunung Malang.

Anggota Batulempung Formasi Beser (Tmbel): batulempung berwarna kelabu gelap, berlapis kurang baik, sebagai lensa. Di Pasir Angin moluska melimpah sedangkan di Cisujen sebelah barat gunung Buleud ditemukan kepingan koral secara setempat.

Formasi Jampang (Tomj): breksi andesit yang tersemenkan baik tersingkap di sepanjang lembah-lembah yang kena erosi dalam sekali di bagian tenggara lembar peta. Bagian dasar tidak tersingkap.

Batuan Terobosan
Terdiri atas andesit piroksin dan andesit hornblende. Andesit hornblende sebagai tubuh-tubuh terobosan di formasi Bentang.
Kolom Stratigrafi Lembar Sindangbarang dan Bandarwaru
Gambar : Korelasi Satuan Peta Geologi Lembar Sindangbarang dan Bandarwaru

Struktur Geologi dan Tektonika Lembar Sindangbarang dan Bandarwaru

Struktur geologi di daerah lembar berupa sesar, lipatan, kelurusan dan kekar yang dijumpai pada batuan berumur Oligo-Miosen sampai Kuarter. Sesar terdiri dari sesar geser yang umumnya berarah utara baratlaut-selatan tenggara dan juga timur-barat. Pola lipatan yang dijumpai berupa antiklin yang berarah baratdaya-timurlaut dan barat-timur dan sinklin yang berarah baratdaya-timurlaut serta fleksur yang berarah barat-timur. Kelurusan yang dijumpai diduga merupakan sesar berarah baratlaut-tenggara dan baratdaya-timurlaut umumnya melibatkan batuan berumur Kuarter. Kekar umumnya dijumpai dan berkembang baik pada batuan andesit yang berumur Oligo Miosen-Kuarter.

Tektonika terjadi di daerah lembar menghasilkan dua pola struktur yang berbeda. Yang melibatkan batuan berumur Miosen Akhir menghasilkan suatu pengangkatan dan kemudian diikuti oleh terobosan batuan andesit berumur Pliosen terhadap pada formasi Bentang. Formasi Cimandiri terlipatkan dan membentuk suatu antiklin dan sinklin berarah sedangkan formasi Beser, Bentang dan Koleberes tersesarkan yang membentuk sesar normal dan sesar geser.

Sumberdaya Mineral dan Energi Lembar Sindangbarang dan Bandarwaru

Sumberdaya mineral yang ada berupa pasir magnetit di pantai selatan Lembar dengan kadar Fe 57% dan Ti 16%. Bahan bangunan yang terdiri dari andesit, batupasir, batulempung dan batugamping juga ditemukan sumberdaya energi berupa batubara/lignit dengan ketebalan 1 meter terdapat di gunung Gebeg.

Peta Geologi Lembar Sindangbarang dan Bandarwaru dapat di download pada link Peta geologi lembar Jawa Barat.
Peta Indeks Geologi Lembar Sindangbarang dan Bandarwaru
Gambar : Peta Indeks Geologi Lembar Sindangbarang dan Bandarwaru, Jawa Barat


Referensi
M. Koesmono, Kusnama dan N. Suwarna. Peta Geologi Lembar Sindangbarang dan Bandarwaru, Jawa Barat. Bandung, 1996.